Pada tanggal 21 April 2011, aku terdiam lemas di sofa yang empuk setelah pulang sekolah. Aku berjalan menuju ke kamar dengan wajah sedih, karena aku rindu kepada mbah Utiku. Aku melihat kalender dan melihat bahwa tanggal 21 April adalah tanggal merah , aku berfikir sejenak , “ ah ! aku akan ke rumah Mbah Uti menggunakan sepeda motor bersama Bapakku ! “ teriakku denga semangat keras sekitar jam 19.00 Bapak dating dengan mengucapkan “ Assalamu’alaikum ? “ “ Wa’alaikum Salam ! ‘ jawabku dengan berlari dan memeluk bapak “ pak ? ayo besok kita ke ponorogo naik sepeda motor soalnya aku kangen uti . “ pintaku manja. “ Bener ? Ayo aja berangkat besok ta ? “ Tanya bapak “ iya bener. Ayo ta pak ! “ rayuku” oke. Siap-siap ya buat besok ? “ oke deh “ . akhirnya aku berlari menuju kamar sekitar 10 menit ibu dating dengan mengucapkan Assalamu’alaikum ? “ “ Wa’alaikum salam! “ gembira banget kamu ? “ Tanya ibu mulai curiga “ ya iya dong , besok aku mau ke Ponorogo ! “ jawabku lebih gembira “ hah ! iya ta ? “ Tanya ibu dengan shok “ iya , bilangin gak percaya, Tanya bapak saja. “ Jawabku polos, ibuku berjalan menuju ke kamar dan aku mengikutinya. “ Bapak ? Besok bapak sama adik mau ke Ponorogo ta ? “ Tanya ibu “ iya, mau ikut ta ? “ Tanya bapak “ gak ah, badanku capek semua . “ jawab ibu dengan posisi tertidur . “ oalah yowes, Besok sekitar jam 09.00 berangkat ya ? “ Tanya bapak padaku “ oke, I’m always ready. Hahaha.. aku segera tidur.
Fajar datang jam 04.45 aku terbangun dan segera sholat dan mandi bapak menyusul sholat, jam 06.00 sampai 08.00 dijadikan waktu untuk berkemas-kemas, setelah aku siap aku melihat bawaanku “ wow, nice! “ dengan rasa senang namun ada sedih, sedih karena harus meninggalkan ibu dan masku waktu sudah menunjukkan pukul 09.10 aku pun bersiap lalu berangkat.
Sekitar 2,5 jam kutempuh dan akhirnya aku sampai di ngawi waktu menunjukkan pukul 11.30 aku beristirahat di ngawi, sekalian menunggu Bapakku sholat jum’at. Sekitar 10 menit aku makan bersama bapak. Dan akhirnya adzan dikumandangkan. Allahuakbar.. Allahuakbar.. “ pak sudah adzan ndang sholat jum’at dulu ae, aku tak nunggu disini “ “ yawes tak titipno ke ibuke yo ? “ “Oke” jawabku. 30 menit berlalu bapak segera berjalan manuju warung. Wes selesai ta? “ tanyaku “sudah”. Langsing aku bersiap-siap dan langsung berangkat.
Sekitar 3 jam ku tempuh, akhirnya aku sampai di Ponorogo “ Assalamu’alaikum, mbah?. Dek ? mas ? “ tanyaku “ Wa’alaikum Salam ! Jawab seluruh keluargaku , aku segera salim dan memeluk semua keluargaku. Waktu menunjukkan jam 17.00 aku segera mengambil air wudhu. Jam 19.10 semua keluargaku berkumpul diruang keluarga. Kami semua menceritakan perjalananku dengan berbahasa jawa, walaupun jawaku tidak seberapa, namun aku tau maksudnya. Saat bercerita pak de ku menyela sebentar untuk meminta izin mengantarkan budeku ke ngrayun. Bue, kulo kaleh buke haris (saudaraku) mane kape ngeterno teng ngrayun. “ Tanya pak de ku. “ Enggeh”. Mboten nopo-nopo “ jawab mbahku. “ lho puh (panggilku) besok mau ke ngrayun ta. ? “ tanyaku. Iya, ikut ta? Sama Bapakmu? Jawab pakde. “ Ya, terserah bapak. “ Bapak keluar dari kamar sehabis sholat Magrib” wan, sesok kue pengen elu ngeterne buke haris teng ngrayun po ra ? Tanya pak de ku. “ ayo ae lho “ akhirnya besok aku ke ngrayun, itu tambah membuatku senang. Ngrayun adalah salah satu desa di Pacitan.
Esok menjemput, aku bangun jam 05.00 lalu segera sholat shubuh setelah itu aku mandi dengan air dingin, aku pun segera ganti baju, waktu menunjukkan pukul 08.00, aku segera bersiap-siap untuk pergi ke ngrayun. Mas . ayo siap-siap ! “ ajakku kepada suadaraku, “ ayo rek !”
1,5 jam lamanya perjalanan tidak terasa kerena hawa dinginnya. Akhirnya aku sampai ngrayun, aku datang dengan perasaan bahagia pada saat aku disana aku bermain trowellu (kelinci) sangat lucu, akhirnya keluargaku dan keluarga budeku berkumpul dan pada saat itu pakde dan bapakku mengusulkan untuk jalan-jalan, itu menambah rasa keceriaanku bersama suadaraku.
Kami berjalan-jalan naik sepada motor dengan gembira dan menyusuri hutan-hutan, disitu kebahagiaanku mulai terlihat sampai di desa montong , jauh dari ngrayun kami beristirahat di warung yang menjual bakso, disana kami makan dan pada saat disitu kami bertanya kepada seseorang dimana letak durian montong , namun pada saat itu masih belum panen, walaupun aku sedih namun aku gembira, karena aku ingin berjalan-jalan akhirnya bapakku bertanya kepada pak deku “ mas neng endi yo enggone PLTA niku yo? “ iyo neng endi yo ? ayo takon ! “ jawab pakdeku, akhirnya kami bertanya kepada seseorang “ mas, PLTA niku teko meriki kiro-kiro pirang kilo ? “ oh, uadoh mas, enten 2.5 km seko meriki. “ au pun kaget , wow jauh amat. Namun itu tidak membuat kami menyerah, kami tetap menantang. PLTA yang baru itu terletak di kota Nglorok, Pacitan, Jawa Timur kami tempuh jalan bergelombang, menyusuri hutan-hutan dan jalan-jalan yang bolong, pada saat itu hari mulai memasuki Maghrib disitu kami masih baru sampai di PLTA itu. Kami memotretnya, indah sekali kami sangat bahagia. Disana aku meminum kopi supaya tidak mengantuk, kami bertanya kepada sang pemilik . “ disini ada hotel ? Tanya bapakku. “ ada tapi jauh, di kotanya nglorok . “ jawan sang pemilik. Berapa kilo dari sini ? “ 1.5 kilo pak . “ wow, tambah jauh walaupun begitu aku belum lelah.
Akhirnya kami mencari hotel 1 jam kemuadia kami sampai. Pada saat sampai perjalanan kami diguyur hujan, sampai di hotel kecil kami kedinginan. Akhirnya kami mencari pakaian dan perlengkapan. Kami ke ngrayun tidak membawa pakaian karena dikira akan hanya sebentar, kenyataan tidak setelah kami mandi , kami langsung mencari makan menunya adalah Bebek goring, itu manambah daya tarikku. Akhirnya jam 10.00 aku baru tidur.
Matahari terbit , kami pun berkemas, aku pun agak sedih karena harus meninggalkan kota indah ini, akhirnya kami ke ngrayun kembali dengan wajah bahagia.
Tanggal 24 April, aku dan ayahku akhirnya pulang ke Gresik.
TAMAT
BY/
NEVINDA .Y
0 komentar:
Posting Komentar