Pagi menyapa dunia sinar matahari menerobos jendela yang reot di sebuah rumah pinggir sungai. Seorang gadis kecil menyibak jendela di rumahnya, guratan wajah terlihat manis gadis itu membawa tas yang sudah lusuh.
Dialah Lisa gadis yang ersekolah di sebuh pondok. Hari ini hari senin, pondok masuk seperti biasa, biasanya ada waktu untuk istirahat sekolah sekitar 1 jam.
Saat istirahat, Farah mengajak Lisa ke pasar tradisional, Lisa hanya mengiyakan saja. Lisa dan Farahpun berangkat menuju ke pasar.
Sesampainya di sana, kami disambut oleh gerbang tua berwarna hijau, kami membuka pintu hijau tersebut. Aku menemani Farah yang berbelanja untuk makan di pondok. Di pondok kami makanan di tanggung sendiri, kalau lisa sudah beli kemarin.
Farah mengajakku berkeliling ke pasar, Farah segera menarik tanganku. Sesampainya di pojok pasar, aku melihat toko pucat kuning beretalase. Di etalase tersebut, terdapat bermacam – macam pena yang lucu.
Gadis penjual itu melihatku yang melongo, Farah hanya tersenyum. Gadis itu menghampiriku, “kamu menginginkan itu ?”, kata gadis tersebut. Aku hanya mengangguk. Gadis itu memberikankupena berwarna biru.
Keesokan harinya, pak Rahmad, ayah Lisa berjualan. Ibu Lisa telah tiada. Pak Rahmad adalah seorang pedagang keliling. Di sebuah jalan tikungan, sebuah mobilpun melaju amat kencang, Pak Rahmad tidak mengetahui, lalu mobil itu menabrak gerobak pak Rahmad.
Pak rahmad merasakan sakit di sekujur tubuhnya, pengendara mobil itu melarikan diri. Pak rahmad berusaha bangkit, namun badanya tak kuasa menahan sakit. Para warga menggotong pak rahmad ke rumahnya, tak lupa gerobak pak rahmad.
Hari minggu adalah hari yang melelahkan, karena besok adalah ulangan kenaikan kelas, Lisa belajar dengan giat, tak disangka nilai Lisa cukup bagus walau tak sempurna.
Lusa akan pembacaan peringkat, hari itu lisa dipanggil oleh bu Irma. Kata bu Irma, pak rahmad kecelakaan, mendengar itu, Lisa pun mengurung diri di kamar. Lisa pun menangis “Aku harus membahagiakan ayah!!” ucap Farah, namun Farah tak yakin, ayahnya bias dating ke acara lusa besok.
Hari yang ditunggupun dating, para wali siswa pun dating. Aku menunggu di pintu Aula. 5 menit lagi acara dimulai ayahpun belum dating, bu Irma menarik tanganku “Ayo duduklah, ayahmu tak akan mengecewakanmu kan?” ucap bu Irma.
Acarapun berlalu kini waktunya pembacaan nilai tertinggi, para MC pun berkata “peringkat pertama kita adalah …. Lisa ” ucap para MC. Aku pun terpaku di tempat dudukku. Teman – teman menyoraki kurasa, terasa Nampak hampa bila tak ada ayah, aku naik ke atas podium. Aku tak bias tersenyum.
Tiba – tiba, sebuah dwitan pintu kudengar, sesosok seseorang dengan kursi roda bersama gadis mungil masuk, aku berkata “Ayah, Aisyah ??” ucapku tak percaya. Aku pun turun dan memeluk ayah, air mataku tumpah tak terasa, matapun terharu, kuberikan piala tersebut pada ayah. Kisah ini bak drama sebuah film.
Karya :
NAMA : FIROSYAN N. F
KELAS : V A
0 komentar:
Posting Komentar